Friday, July 31, 2009
Tembakau Kunyah atau Tembakau Sugi, Gambir, Jambe, Daun Sirih, Apu
Terdapat beberapa jenis tembakau sugi, antara lain tembakau daun longgar, tembakau sumbat, tembakau gulungan dan tembakau gigit.
Mengunyah tembakau merupakan cara tertua untuk menikmati tembakau. Sejarah ini dapat di lacak ke suku Indian dan Benua Amerika.
Orang - orang Jawa sekarang ini, khususnya di dominasi kaum hawa masih melakukan kebiasaan mengunyah tembakau. Tetapi kaum pengunyah keberadaan mereka umumnya bemukim di pedesaan. Kebiasaan mereka dalam membeli bahan baku masih di pasar tradisional. Karena pasar - pasar tradi sional masih menyediakan kebutuhan konsumen yang masih aktif dalam mencari bahan tembakau dan perlengkapan lain.
Dalam melakukan aktifitas mereka untuk melakukan proses pengunyahan masih ada bahan campuran seperti gambir, jambe, injet atau apu dan daun sirih serta bahan utama tembakau.
Keunikan tersebut sampai sekarang masih bisa dirasakan.
tembakaurokok.blogspot
Bursa Tembakau Bremen, Apa Perlu Dipertahankan?
Pesta peringatan 50 tahun lelang tembakau Bremen tahun lalu yang dirayakan dengan besar-besaran di gedung yang terletak di jalan Speicherhof 1 Bremen, Jerman, Kamis pekan silam saat digelarnya lelang tembakau tampak lengang.
Di dalam gedung yang terdapat ruangan wakil dari pengusaha cerutu berbagai Negara banyak yang kosong dan hanya menyisakan papan nama begitupun meja panjang berisi daun tembakau yang digunakan untuk contoh juga tidak begitu banyak.
Sesekali tampak lalu lalang beberapa broker yang menunggu acara lelang digelar siap dengan buku kecil yang bertuliskan jumlah, jenis dan kualitas serta kode pengiriman tembakau yang akan dilelang.
Alexander Kohne berusia 19 tahun mengenakan jas warna terang tetap tidak dapat menutupi wajahnya yang belia untuk ikut dalam acara lelang tembakau.mengikuti jejak sang kakek yang mendirikan balai lelang 50 tahun lalu bersama ayah ManagingDirector DITH, Wolfgang G. Koehne dan kakaknya Constanten Kohne.
Sementara di dalam ruangan para direktur dua perusahaan tembakau dari PTPN X Medan dan PTPN II Surabaya yang masih belum hilang jetleg-nya siap-siap mendiskusikan harga yang pantas mereka terima.
Dalam ruangan itu juga hadir Dutabesar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh KBRI Berlin Eddy Pratomo beserta Konjen Hamburg Teuku Darmawan bersama Presiden Komisaris PT Bakri Sumatra Plantation Tbk Sudjai Kartasasmita yang juga Badan Kerjasama Perkebunan Sumatera (BKS-PPS).
Dari pengeras suara terdengar suara wanita berbahasa Jerman yang mengatakan acara lelang akan dibuka dan beberapa peserta lelang termasuk Chandra Perpathi salah satu broker dari Perantara ikut memasukan amplop berisi tawaran ke dalam kotak surat disebut Gabote.
Dari surat penawaran yang dimasukan ke dalam Gabote dibahas bersama pimpinan PTPN X dan PTPN II yang pimpinan AP Dargo dari Deutsch Indonesische Tabak-Handelsgesellschaft MBH&Co.
Di tengah-tengah gelombang kampanye anti merokok yang makin terus digencarkan dan juga krisis global yang melanda seluruh dunia penjualan komoditi tembakau dengan cara lelang masih dapat dipertahankan.
Apakah cara lelang seperti patut dipertahankan terus, tanya Duta Besar Luar Biasa dan Bekuasa Penuh KBRI Berlin Eddy Pratomo kepada koresponden Antara London yang mengikuti acara lelang tembakau Bremen.
Dubes Eddy Pratomo mengatakan system lelang yang sama dari tahun ke tahun apa masih terus dilakukan. "Apa tidak perlu ditinjau kembali," tanyanya.
Diakuinya Balai lelang tembakau TabakBursa ini memang memiliki beban sejarah yang panjang hanya saja mekanisme lelang tampaknya perlu dibenahi dan bisa saling menguntungkan kedua pihak.
Acara Lelang tembakau Indonesia milik PT Perkebunan Nusantara II dan PT Perkebunan Nusantara X dari tahun ke tahun terus menurun meskipun tembakau asal Perkebunan di Sumatera Utara masih tetap diminati.
Deutsch Indonesische Tabak-Handelsgesellschaft MBH&Co merupakan kerja sama antara PT Perkebunan Nusantara II dan PT Perkebunan Nusantara X dengan konsorsium rekanan bank dan pedagang di Bremen melakukan lelang sejak 50 tahun lalu.
Menurut Dargo, harga tembakau Jawa cukup baik dan dibeli pembeli yang sama seperti tahun lalu dari keseluruhan 600 bal tembakau Poslan dan 50 karton Tembakau FIK Bawah Naungan (TBN) dari PT Perkebunan Nusantara X Surabaya menghasil sekitar 590 ribu euro.
Tembakau yang dilelang tahun ini, katanya, secara kualitatif lebih baik dari tahun sebelumnya dan harga yang ditawarkan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemilik dan lebih tinggi dari tahun lalu.
Pemilik tembakau merasa puas dengan hasil lelang tembakau Jawa, sementara tembakau milik PT Nusantara II Muara Medan terjual 1004 bal dengan hasil 2,1 juta Euro.
Dibandingkan tahun tahun sebelumnya apa yang dihasilkan dari lelang tembakau dari TabakBursa memang jauh berkurang meskipun pasaran tetap ada, karena penikmat cerutu juga makin tertambah.
Menurut Dargo, pasaran tembakau milik PTPN X masih cukup kuat, hasil cukup baik dan harga juga cukup tinggi dan pemilik sedikit puas.
Meskipun ada beberapa tembakau yang diharapkan bisa bernilai tinggi namun dalam kondisi yang makin ketatnya larangan merokok di tempat umum penjual cukup puas dengan harga yang ditawarkan.
Diakuinya, dalam acara lelang tembakau penyelenggara merasa terkejut dengan harga yang ditawarkan yaitu mencapai 85 Euro perkilo, suatu harga kejutan dari perkebunan terbaik sementara harga terendah yang pernah ditawarkan adalah 10 euro perkilo gram dengan kualitas yang jauh dibawah standar.
Menurut Dargo, produksi cerutu di berbagai Negara juga mengalami penurunan dan industri cerutu mengunakan persediaan yang ada dan sajian tembakau yang dilelang saat ini disesuaikan dengan permintaan pasar di bandingkan tahun tahun lalu.
Sementara itu, kebutuhan akan tembakau Sumatera tetap tinggi dibuktikan dengan permintaan yang cukup besar termasuk tembakau Jawa yang sesuai dengan permintaan sementara kualitas menengah hanya bisa menunggu untuk di lelang.
Kebutuhan yang ada jangan sampai melebihi permintaan yang ada, ujarnya. Untuk itu ada beberapa tembakau yang ditahan, kata Albertus Prangboewana Dargo.
Sementara itu Presiden Direktur PT Perkebunan Nusantara X Subiyono mengatakan tembakau dari perusahaannya, hanya dilelang sebanyak tiga persen dari jumlah keseluruhan produksi tembakau yang berjumlah 650 bal, sementara sebagian besar sudah laku dijual oleh pembeli yang langsung datang ke Klaten.
Subiyono mengatakan hasil lelang sudah cukup memuaskan karena di atas harga pokok, dan ada peningkatan rata rata 14 persen. "Hasilnya saya cukup puas," ujarnya.
Sementara itu Direktur Utama PT PN X Bhatara Moeda Nasution mengatakan, secara keseluruhan hasil lelang tembakau PTPB X cukup baik dan sesuai dengan jumlah yang mereka butuhkan.
Diakuinya, dari segi mutu memang menurun namun dari segi harga cukup memuaskan, karena pangsa pasar tembakau makin hari makin kecil, untuk itu PTPN X perlu menyiasati harga. Apalagi tembakau yang dikenal dengan "golden leaf" itu membutuhkan penanganan khusus.
Pada peringatan 50 tahun kerja sama lelang tembakau Jerman tahun lalu terjual sebanyak 702 bal tembakau Jawa milik PT Perkebunan Nusantara X Surabaya yang ditanam di Klaten, Jawa Tengah, dan 70 karton TBN (Tembakau Bawah Naung) FIK.
Perjalanan panjang daun emas tembakau Deli dan tembakau Jawa sampai ke balai lelang tembakau di Bremen berlangsung sejak lama dan bahkan pernah mencapai kejayaannya saat satu bal tembakau setara dengan satu mobil Mercy.
Kota Bremen yang merupakan kota pelabuhan kedua terbesar setelah Hamburg berpenduduk 664.000 jiwa menjadi saksi kejayaan tembakau yang dihasilkan perkebunan milik PTPN II Medan dan PTPN 10 Surabaya -- memasuki tahun ke 50 justru mengalami penurunan dan bahkan bisa disebut kemunduran.
Bila tidak ada campur tangan pemerintah rasanya sulit bagi kedua perkebunan tembakau itu untuk mengangkat kembali kemasyuran tembakau Deli yang digunakan untuk membuat cerutu oleh perusahaan ternama di dunia.
Kemasyuran tembakau Indonesia diakui Wolfgang G. Koehne dari Deutsch-Indonesische Tabak-Handelsgesellschaft mbH & Co. KG dan Niels Leoni dari perusahaan Ermor Tabarama Tabacos do Brazil Ltda.
Daun tembakau Deli digunakan untuk pembungkus atau Deckblatt cerutu buatan Eropa yang memiliki cita rasa dan warna yang sangat khas sedangkan daun tembakau asal Jawa digunakan untuk mengisi cerutu yang disebut dengan filler.
"Sayangnya produksi tembakau dari perkebunan milik PTPN 2 Tanjung Muara Medan dan PTPN 10 Surabaya terus mengalami menurunan," ujar Soedjai Kartasasmita yang juga penasehat PT Perkebunan Nusantara II Medan.
Produksi tembakau dari kedua perkebunan itu selama lima tahun terakhir terus mengalami penurunan baik dari segi jumlah maupun pendapatan.
Dari data yang ada Lelang tembakau Sumatera tahun 2004 yang berjumlah 1.803 bal menghasilkan 3.457.650 Euro, sementara tahun 2005 mengalami peningkatan yang tidak banyak menjadi 2.124 bal dengan nilai 4.585.000 Euro.
Pada tahun 2006 produksi kembali mengalami menurun sampai 2.082 bal dengan nilai lelang 3.950.000 Euro begitupun tahun 2007 juga mengalami penurun sampai 1.675 bal yang menghasilkan 3.892.264 Euro.
Untuk tahun 2008, yang merupakan lelang yang ke 50 itu , menurut panitia lelang Albertus P Dargo dari sebanyak 1964 bal tembakau Deli hanya dapat menghasilkan 3.500.000 Euro.
Begitupun pada tembakau Jawa yang juga mengalami pasang surut yang pada tahun 2004 dilelang sebanyak 1.008 bal menghasilkan 1.133.580 Euro, dan tahun 2005 produksi tembakau yang berjumlah 1.150 bal laku terjual 1.130.000 Euro, dan pada tahun 2006 mengalami penurunan sampai 1.112 bal hanya menghasilkan 990.000 Euro.
Sementara pada tahun lalu 2007 hasil tembakau Jawa berjumlah 802 bal bernilai 805.774 Euro sedangkan tahun 2008 menurun menjadi 702 bal tembakau yang menghasilkan 840 ribu Euro.
Pengusaha cerutu dengan merek terkenal Henri Wintermans Cigars dan Nobel Cigars, dua nama cerutu yang diproduksi PT Cigar Group Holdong B.V dari Belanda sempat meragukan akan kemampuan kedua perkebunan Indonesia untuk dapat memasok daun tembakau.
Rod Zwarts, Direktur Utama PT Cigar Group Holding BV , khusus datang ke Medan untuk memastikan produksi Tembakau Jawa dan Tembakau Deli akan dapat memenuhi kebutuhan produksi cerutu yang diproduksi perusahaannya.
Menurut Soedjai Kartasasmita, banyak pengusaha carutu yang mulai melirik daun tembakau yang diproduksi oleh negara lainnya, apalagi bibit tembakau yang ditanam di Eguador maupun di Afrika berasal dari Sumatera.
Hal ini, ujar Presiden Komisaris Bakrie Sumatera Plantations karena kurangnya perhatian baik dari pemerintah maupun pengusaha akan tembakau. Bahkan lahan tembakau banyak beralih menjadi lapangan golf maupun perumahan.
Kepala Perwakilan KJRI Hamburg Teuku Darmawan mengatakan kontribusi tembakau asal kedua perkebunan itu tahun lalu menghasilkan lebih dari 1,4 miliar Euro dan sekitar dua juta bal tembakau asal Sumatera dan Jawa dijual melalui balai lelang Bremer Tabakborse.
Apalagi dengan dibentuknya DITH pada 1959 yang merupakan tonggak sejarah dari perdagangan internasional tembakau Jawa dan Sumatera di kota Bremen.
Sebelum tahun 1959, pasar tembakau Indonesia dengan sistem lelang dilakukan di Rotherdam, Belanda, dengan terjadinya konfrontasi Indonesia dengan Belanda masalah Irian Barat tempat pelelangan tembakau pindah ke Bremen, Jerman.
"Tembakau Deli turut memberikan andil terhadap Kedaulatan Republik Indonesia," ujar Bhatara Moeda menambahkan betapa hebatnya sebatang cerutu.
Diakuinya tembakau Deli membuat nama Indonesia dikenal dunia, dan pada saat itu Jerman mengambil timing yang tepat dengan memindahkan lelang tembakau dari Belanda ke Bremen di Jerman.
Sayangnya bangsa Indonesia tidak menyadari akan kemasyuran tembakau Deli yang diakui di dunia, ujar Soedjai lagi.
Perusahaan-perusahaan pembuat cerutu terkemuka di Eropa seperti J. Cortez (Belgia), Royal Agio dan De Olifant (Belanda), Nobel Cigars dan Henri Wintermans (Belanda-Denmark) dan Viliger (Jerman-Swiss) setiap tahunnya mengikuti setiap pelelangan tembakau milik perkebunan PT PN II Medan PTPN 10 Surabaya.
Daun tembakau yang berhasil dilelang memang tidak langsung dibawa pembelinya tetapi disimpan di gudang milik perusahaan Joh.C.Henschen Gmbh &Co KG yang tidak jauh dari gedung Balai lelang Bremer Tabakborse yang didirikan 13 Juni 1961.
Menurut Klaus G Henschen, dalam penyimpanannya tembakau Deli dan tembakau Jawa mendapat perlakuan khusus beda dengan tembakau negara lainnya.
Semua mengakui kehebatan dan kemasyuran daun emas tembakau Deli dan tembakau Jawa, sementara di tanah air, ladang tembakau semakin menyempit dan bahkan berpindah fungsi. Masihkah kejayaan tembakau ini akan terus berlanjut, atau tinggal menjadi kenangan.
(ANTARA News)
The Clay Pipe
With time, both the style and the material of pipes changed. In the 16th, 17th, and 18th centuries, clay pipes dominated the scene. Meerschaum, a form of mined clay made of hydrated magnesium silicate, was introduced from Asia Minor, but this material was very fragile and used by only the very wealthiest of smokers.
It was not until the 1850’s, with the influence of Spanish cigars and a sturdier briar pipe that the clay pipe’s popularity began to wan a bit. By this point, the clay pipe was considered appropriate only for the working class. This was by no means the end of the manufacture of clay pipes but now they began to see competition for the first time. A fancy pipe of Briar maybe even with fittings of sterling silver or gold could show ones stature just as a gold pocket watch could. Elaborate cases and other detailing made the personal pipe a treasure. Victorian tastes made a more sophisticated looking pipe a must.
By the 19th Century, Scotland and Ireland were the primary exporters of clay pipes from the UK. During the time of the great famine when waves of Irish and Scots were immigrating to the new world, these pipes had already acquired nicknames. They were often thought to always have a dhudeen, or short-stemmed clay pipe, in their mouths. Also, the Scottish/Irish styles were very recognizable. Dublins and Derries were two common shapes. African-Americans were often seen smoking white clay pipes later dubbed “Negro Pipes" or worse "Nigger Pipes”!
The 19th Century saw hundreds of designs manufactured. Pipes with figures, animals, and all sorts of emblems became common. Delightful and imaginative pipes of every description were being made from molds in Germany, Holland, and the USA as well as the UK the pipe making center of the 19th Century. To some extent racial stereotyping helped the clay pipe fall from favor despite the fact that a cool smoking clay is a superior smoke to almost any expensive briar or even some Meerschaum pipes. Cruel cartoons of Irish drunks and monkey-faced Black people appeared in periodicals like Harpers, and the London Daily News depicting the lowest classes as tobacco fiends and boozers. mbakotingwe
90% Merk Rokok tak ber-HaKI
90 persen merek rokok di Kabupaten Malang belum mengantongi Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Sehingga Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pasar menggenjot sosialisasikan HaKI di Hotel Grand Palace, kemarin. Sampai saat ini, jumlah merek rokok di Kabupaten Malang sekitar 500 buah, jumlah pabriknya mencapai 206 buah.
Kepala Disperindag dan Pasar Pemkab Malang Ir. H.M Syakur Kullu, mengatakan HaKI merupakan hal penting dalam produk tertentu. Khusus rokok, selama ini, para produsen di Kabupaten Malang masih awam mengenai HaKI. Sehingga pihaknya mengundang 100 pengusaha rokok dan 33 Kasi Ekonomi dan Pembangunan seluruh Kecamatan.
“Aturan HaKI sudah jelas, sesuai UU nomor 15 tahun 2001 tentang merek, ada sanksi bagi pelanggar HaKI,” ujar Syakur.
Syakur menilai, kesadaran para pengusaha terhadap prosedur dan pemilikan HaKI masih amat rendah. Pasalnya, sampai saat ini baru 10 persen merek rokok yang sudah didaftarkan HaKI. Merek yang ber HaKI itu rata-rata dimiliki perusahaan besar di Kabupaten Malang.
“Untuk mendorong pengusaha kami juga akan menyeleksi merek tertentu, yang akan kami daftarkan ke Kanwil Departemen Hukum dan HAM di Jakarta. Tahun ini ada 30 merek yang kami daftarkan,” ujar Syakur.
Secara terpisah, Kasi Industri Minuman dan Tembakau Disperindag Pasar R. Taufiq Hidayat mengaku telah ada alokasi dana sebesar Rp 60 juta. Dana itu didapatkan dari pembagian dana hasil cukai, yang akan digunakan untuk sosialisasi. Menurut dia, yang paling diperlukan saat ini adalah HaKI.
“Memang lumayan juga, tanya soal HaKI saja sudah keluar biaya Rp 300 Ribu. Tapi keuntungannya, HaKI ini bisa diperjualbelikan, masa berlakunya 10 tahun,” ungkap Taufiq.(ary/eno/malangpost)
Rokok Perkecil Penis
Berdasarkan paparan Mike Zimmerman dari Menshealth Jerman, merokok bisa memperpendek ukuran penis beberapa centimeter, karena pembuluh darah makin sempit. Lebih jelas, dokter spesialis kulit dan kelamin dr Darwis Toena, SpKK menyebutkan, persoalan panjang atau pendeknya ukuran alat vital pria, sudah terbentuk sejak lahir. “Namun kalau soal besar-kecilnya ukuran alat vital itu, ditentukan banyaknya suplai darah ke bagian ini,” sebut Darwis.
Ia menyebutkan, makin banyak suplai darah ke penis, makin besar pula ukurannya. Sebaliknya, jika suplai darah ke alat vital ini sedikit, maka ukuran alat vital terlihat tidak bisa membesar.
“Jika suplai darah kembali normal, maka suplai darah juga kembali normal,” sebutnya.
Terkait dengan rokok, menurutnya, zat-zat racun yang terkandung dalam tembakau itu, memiliki andil menghambat peredaran darah di bagian vital ini. “Karena itu sudah dituliskan jika rokok bisa menyebabkan impotensi, itu terjadi jika suplai darah kurang lancar,” sambungnya.
Darwis kemudian menyebutkan, pembuluh darah di bagian penis tak upahnya seperti spons yang mudah menampung aliran darah. Sehingga ketika suplai darah ke alat vital ini banyak, maka ukurannya akan lenih besar dibandingkan dalam keadaan normal.
Itu sebabnya dia menyarankan, apalagi bagi mereka yang memiliki keluhan terhadap alat vital ini, seperti impotensi atau ejakulasi dini.
Sebab, zat racun dalam rokok membuat pembuluh darah mengeras, kaku, dan menyempit sehingga peredaran darah ke testis sebagai tempat produksi sperma terganggu. Kondisi ini akan mempengaruhi kualitas sperma, bahkan saat ereksi tak akan bertahan lama.
Padahal, sesuai studi yang dilakukan State University of New York, semakin banyak cairan sperma yang dihasilkan, akan meningkatkan kepuasan pasangan. Sementara produksi sperma bisa saja terhambat akibat rokok. kaltimpost_jpnn
